gmki salatiga

gmki cabang salatiga

BERJAGA-JAGALAH (Roma 13 : 11-14) Bahan Renungan Pendalaman Alkitab Gabungan GMKI cab. Salatiga dan Purwokerto

Dalam permainan petak umpet, tugas penjaga pos cukup berat. Bersamaan dengan itu, tugas lainnya adalah menemukan pemain lainnya yang bersembunyi. Di samping mencari, matanya tetap mengawasi ke arah pos agar tidak kecolongan. Penjaga pos akan berhasil ketika menemukan semua pemain yang bersembunyi dan mempertahankan posnya. Kunci dari permainan ini adalah sigap, waspada dan mengenali tempat-tempat potensial yang menjadi tempat persembunyian musuh-musuhnya.

 

Kadang-kadang begitulah kehidupan. Kita bertugas sebagai penjaga pos sekaligus menemukan mereka yang bersembunyi tanpa kehilangan pos kita sendiri. Tuhan tentu menginginkan kita menjaga setiap pos-pos kehidupan yang dipercayakan kepada kita. Akan tetapi, ada tugas lain yang Tuhan kehendaki untuk kita kerjakan, yaitu mencari dan memperhatikan mereka yang ada di sekitar kita dan membawa mereka untuk kembali ke pos penjagaan.

 

Ilustrasi: Permainan Petak Upet oleh Sekfung Kerohanian GMKI Cab. Salatiga.

 

Berjaga-jaga dan Berdoa

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga. Sebagai manusia, kita terbatas untuk mengetahui segala sesuatu. Terutama kematian. Tidak seorangpun yang dapat memprediksi kematiannya (Mrk 13:33; Mat 25:13). Tidaklah mengherankan, sehingga Paulus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga. Selain itu, berjaga-jaga dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap si iblis musuh kita  (1Ptr 5:8)

 

Berjaga-jaga dan berdoa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan doa, kita terhubung dengan sang pemberi hidup. Dengan doa pula, kita meminta kekuatan dari Nya yaitu roh. Karena manusia diliputi akan keinginan daging (dunia) sehingga rentan jatuh ke dalam pencobaan. Dengan roh, manusia dimampukan melewati pencobaan (Mrk 14:38). Untuk itu, sikap taat perlu dimiliki agar hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan.

Kesadaran dan Ketaatan

Paulus menghendaki agar kita taat, baik pada Tuhan maupun pemerintah. Pemerintah adalah wakil Tuhan di dunia (Rom 13: 1-4). Ketika melanggar peraturan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, kita perlu mengingatkan dan saling menegur satu dengan yang lain. Ini adalah bentuk kesadaran dan ketaatan.

Firman Tuhan tidak mengajarkan untuk mementingkan diri sendiri atau kelompok tertentu. Melainkan mengajak kita untuk saling menjaga satu dengan yang lain. Seperti kata pemazmur, Tuhan akan menjaga umat Nya (Mzm 121:8).

Konteks Saat ini

Seruan berga-jaga sangat relevan dengan konteks saat ini. Berbagai pos-pos Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 berdiri di mana-mana, tidak terkecuali di tingkat RW/RT. Pembatasan mobilitas warga yang keluar-masuk kompleks diperketat. Di beberapa tempat, jadwal berjaga (ronda) diatur secara swadaya oleh warga dalam mengantisipasi tindakan kriminal seperti pencurian dan perampokan.

Di situasi mencekam ini, timbul kewaspadaan sekaligus ketakutan berlebihan. Tatapan saling curiga mulai menggerogoti. Beberapa tindakan irasional seolah dianggap wajar dan dibenarkan. Mulai dari tindakan diskriminasi pada mereka yang dicurigai terapar sampai penolakan jenazah pasien positif covid-19.

Rasa takut maupun cemas menciptakan penderitaan. Respon naluriah pada manusia untuk bertahan hidup. Segala upaya dilakukan untuk menghindari penderitaan. Namun jika sudah berlebihan, dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Memperhatikan dan Mengasihi
Dalam segala kondisi, baiknya kita saling memperhatikan agar saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik (Ibr 10:24). Dan yang paling utama adalah kasih, seperti Yesus telah mengasihi kita (Yoh 13:34). Bagi Yesus, mempedulikan dan mengasihi sesama kita yang hina adalah bentuk kasih kita kepada Nya (Mat 25:45). Saat ini, mereka yang terpinggirkan, terdiskriminasi, terdampak secara ekonomi maupun kesehatan karena covid-19 adalah sesama kita yang hina.

Paulus menegaskan bahwa kasih sebagai kegenapan akan hukum taurat. Dengan kasih manusia tidak akan berbuat jahat terhadap sesamanya (Rom 13: 8-10). Selain itu, hidup dalam kasih menciptakan manusia yang bermoral dan terhindar dari perbuatan tercela (ayat 13-14).

Untuk membedakan yang baik dan buruk, Paulus meminta kita untuk mengendarkan nurani (Rom:13:5). Nurani memberikan suara yang lembut dan mengatakan “itu salah” jika itu salah. Kemudian putuskan dengan keyakinan sesuai dengan tuntunan roh kudus. Namun, jika kita ragu, tanyakan pada Tuhan melalui doa.

Karunia Rohani dan Talenta
Berjaga-jaga tidak menjadikan kita berpangku tangan, tetapi perlu menghidupi karunia rohani. Dengan sungguh-sungguh menghidupi karunia itu, maka roh kudus berkarya di dalamnya (Rom 12:6-8). Selain itu, perlu juga menghidupi dan mengembangkan talenta kita yang akan ditanggungjawabkan di hadapan Nya kelak (Mat 25: 29-30)

Berjaga-jaga berarti sadar akan tanggung jawab, taat menjalankan kewajiban, peduli dengan keadaan sekitar dan bertekun di dalam doa. Sudahkah kita berjaga-jaga?

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.