gmki salatiga

gmki cabang salatiga

Pandemi virus Corona aka Covid-19 menjadi highlight utama di hampir seluruh media massa dalam beberapa bulan terakhir. Sejak kasus pertamanya di Wuhan, wabah ini mampu menarik perhatian dunia dan menjadi trending topic global seiring dengan jumlah kasus yang dikonfirmasi terus meningkat.

Covid-19 sejauh ini telah menjangkiti tak kurang dari 230 negara. Berdampak pada terganggunya kesehatan masyarakat dunia akibat rentan terinfeksi, penyesuaian berinteraksi dengan menjaga jarak hingga melambatnya pertumbuhan ekonomi Global akibat aktivitas pasar yang mandek.

Pemerintah dunia termasuk Indonesia telah berupaya menekan dampak penyebaran virus dengan berbagai kebijakan, seperti ujicoba obat – obat potensial, pembuatan antivirus, penerapan protokol kesehatan, rapid tes massal hingga kebijakan karantina wilayah di beberapa negara.

Seiring perkembangan kasusnya, strategi pemerintah perlahan mulai menunjukkan hasil. Meskipun tren penularan masih cukup tinggi di hampir seluruh negara dan beberapa diantaranya diprediksi akan dilanda second wave, namun tingkat kematian akibat virus tersebut telah mampu ditekan. Pasien sembuh pun mulai meningkat berkat obat yang ditemukan berhasil mempercepat proses penyembuhan. Bahkan di beberapa negara seperti Vietnam dan China sudah tidak ditemukan kasus penularan baru di dalam negara (kecuali imported case) dan negara seperti Malaysia, Spanyol dan China mulai melonggarkan lockdown-nya.

Prediksi pun mulai bermunculan, mulai dari prediksi akhir pandemi hingga ‘New Normal’ activity. Lantas apa itu new normal ?, Seperti apa aktivitas manusia setelah wabah ini berakhir ? Apakah kehidupan manusia akan kembali seperti masa pra-pandeminya atau muncul habit baru ?.

New Normal diartikan sebagai model pengkondisian aktivitas manusia yang berubah dan dilakukan semasa Pandemi, yang nantinya berubah menjadi pola hidup baru pasca-Pandemi. Hal penyesuaian ini diyakini akan diteruskan karena pada dasarnya, setelah mendapat hal buruk manusia tidak ingin pengalaman itu kembali terulang, terlebih dampak buruk itu berimbas bagi semua aktivitasnya dan orang – orang disekitarnya. Memori ini akan menjadi alarm saat menjalankan kehidupannya.

Penyesuaian aktivitas tersebut yakni protokol kesehatan ketat seperti rajin cuci tangan, penggunaan masker dan physical distancing.Kebersihan diri menjadi hal wajib ketika ingin mulai bersosial dengan sesama, melalui bersih – bersih tangan yang akan berlanjut untuk dibiasakan baik saat di rumah, maupun saat bepergian di tempat kerja, sekolah, rumah makan, area perbelanjaan dan lainnya.

Kesadaran menggunakan masker ketika sakit agar tidak menularkan pada sesama semasa pandemi pun diyakini akan terus berlanjut. Berinteraksi dengan jaga jarak pasca pandemi mungkin akan segera hilang, tapi model interaksi via video conference meski telah dijalankan sebelum Covid-19 merebak, akan membuka peluang pemanfaatan lebih jauh akibat efisiensi biaya tenaga dan waktu. Seperti saat rapat kerja organisasi, belajar, diskusi dan seminar jarak jauh, sampai tugas – tugas corporat yang bisa dilaksanakan dimana saja, kapan saja.

Tentunya untuk menjadi suatu habit, pembaharuan masyarakat diatas perlu dibarengi dengan waktu dan konsistensi yang cukup. Semoga ‘New Normal’ mampu hadir sebagai alarm baik dalam menjaga semangat hidup bersosial dalam kehidupan manusia.

OLEH     : GERRY G MOLEONG

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.