gmki salatiga

gmki cabang salatiga

MENJADI PERPANJANGAN TANGAN TUHAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Pandemi covid-19 yang telah mewabah di Indonesia selama tiga bulan ini telah memberi dampak bagi banyak orang. Ribuan orang telah terpapar virus yang telah menghebohkan dunia ini, sebagian sembuh, namun sebagian lainnya meninggal dunia. Banyak orang yang berduka akibat ditinggalkan selamanya oleh keluarga, kekasih, teman, atau sahabat terkasih. Di sisi lain, untuk mencegah penyebaran virus tersebut, banyak perusahaan, toko, atau usaha lainnya terpaksa tutup untuk sementara. Akibatnya banyak karyawan yang dirumahkan. Banyak orang yang mengalami hambatan dalam mencari nafkah bahkan ada yang kehilangan pekerjaannya.

Dampak yang serupa dialami juga oleh jemaat GKJ Salib Putih, Salatiga. Sebagian besar jemaat di gereja tersebut menggantungkan hidup sebagai supir, warung-warung kecil, lukisan, dan pekerja di perusahaan-perusahaan yang ditutup akibat pandemi covid-19.

Menanggapi kondisi tersebut, majelis GKJ Salib Putih telah berupaya meringankan beban yang ditanggung jemaat akibat pandemi ini. Sembako sejumlah 81 paket telah disalurkan pihak majelis bagi warganya yang sangat terdampak pada peringatan hari Kenaikan Yesus Kristus, pada 21 Mei 2020 lalu. Jumlah tersebut hanyalah sebagian dari jumlah sesungguhnya. Berdasarkan penuturan salah satu majelis setempat, masih ada jemaat yang terdampak dan membutuhkan bantuan, namun kemampuan gereja masih terbatas sehingga belum bisa menjangkau semuanya.

GMKI Cabang Salatiga sebagai anak kandung gereja tergerak hati untuk turut dalam panggilan pelayanan gereja. Kerinduan tersebut diwujudnyatakan pada Sabtu, 6 Juni 2020. Sembako sejumlah 15 paket disiapkan untuk disalurkan kepada jemaat-jemaat GKJ Salib Putih yang terdampak namun belum terjangkau oleh gereja.

Saya bersama lima orang Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Salatiga lainnya turut mengambil bagian dalam upaya tersebut dengan tetap mengusahakan protokol kesehatan. Kami mengangkut 15 paket sembako menggunakan tiga sepeda motor yang ditumpangi masing-masing oleh dua orang.  Perjalanan dimulai dari student center (SC) GMKI Salatiga yang terletak di komplek Yayasan Bina Darma. Setelah menyantap makan siang, kami bergegas menuju rumah salah satu majelis GKJ Salib Putih yang terletak di daerah Bendosari, Salatiga. Kecepatan kendaraan tidak begitu laju, mengingat di antara kami ada yang membawa satu rak telur.

Kami sempat terkecoh dengan lokasi yang dikirimkan melalui whatsapp (WA) oleh Ibu Atik, ketua majelis GKJ Salib Putih. Namun akhirnya sampai dengan selamat setelah menghubungi Ibu Atik dan mendapatkan arahannya. Kami disambut di rumah salah satu majelis oleh beberapa orang majelis dan disuguhkan minuman sirup merah yang menemani perbincangan hangat kami di siang itu. Setelah sedikit berbincang dan berbagi cerita, kami melanjutkan perjalanan untuk menyalurkan paket sembako yang telah kami siapkan.

Dalam rangka efektivitas waktu, kami dibagi menjadi dua tim. Empat orang bersama Ibu Atik untuk membagikan delapan paket sembako dan dua orang bersama Ibu Eri, salah satu majelis, untuk membagikan empat paket sembako. Sementara tiga paket lainnya menyusul disalurkan setelah itu. Jemaat-jemaat yang menjadi sasaran kami merupakan jemaat yang didata dan dinyatakan layak menerima oleh majelis GKJ Salib Putih. Majelis telah berupaya mengidentifikasi secara sungguh jemaat-jemaat yang terdampak untuk mendapatkan data tersebut.

Berkunjung dari satu rumah ke rumah lain adalah pengalaman berharga. Perjumpaan demi perjumpaan akhirnya menumbuhkan ikatan emosi. Kami melihat langsung rasa syukur dan bahagia para jemaat ketika mendapatkan sembako. Dari binar mata mereka, kami merrasakan bahwa bukan tentang sembakonya, melainkan rasa kepedulian dan perhatian yang mereka rasakan. Kebanyakan jemaat merasa kaget akan kedatangan kami karena belum diwartakan pihak majelis sebelumnya. Oleh karena itu, pada beberapa kesempatan kami tidak bisa menjumpai secara langsung orang yang bersangkutan karena kala itu ada yang sementara pergi memerah sapi atau harus dipanggil terlebih dahulu karena sedang berada di kebun.

Kunjungan kami di setiap jemaat memang tidak lama, namun kami mendapatkan banyak cerita. Ibu Endah misalnya, beliau adalah salah seorang pekerja di sebuah perusahaan, namun terpaksa dirumahkan akibat pandemi covid-19 ini. Menurut tuturannya, pada masa awal dirumahkan beliau sempat merasakan stres karena tidak bisa bekerja. Namun akhirnya seiring berjalannya waktu beliau mulai menyibukkan diri dengan beternak atau berkebun. Salah satu jemaat lainnya yang kaget dengan kedatangan kami, merasa bersyukur sekali atas bantuan yang diperoleh. Jemaat tersebut mengaku bahwa sebelumnya ia, suaminya, dan anaknya adalah seorang pekerja. Namun akibat pandemi ini, ia dan anaknya telah terlebih dahulu dirumahkan, dan beberapa waktu ke depan suaminya pun akan menyusul.

Kesempatan menyalurkan sembako kepada jemaat-jemaat di GKJ Salib Putih merupakan peristiwa haru bagi kami. Kami bersyukur menjadi sebagian dari sekian banyak orang yang dipercayakan untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menyalurkan berkat. Sekali lagi, ini bukan tentang besaran yang kami berikan, namun tentang rasa perhatian dan peduli kami sebagaimana yang diungkapkan para jemaat penerima sembako. Melalui kesempatan ini pun, ikatan emosi terbangun dan kami semakin dekat dengan para jemaat.

Melalui ini, ucapan terimakasih kami sampaikan kepada para dermawan yang telah mengulurkan bantuan kepada kami sehingga kami bisa teruskan kepada para jemaat Tuhan di GKJ Salib Putih. Kami juga berterimakasih kepada majelis GKJ Salib Putih yang telah menyambut niat berbagi kasih kami dan turut mendampingi kami untuk menyalurkan sembako. Kiranya Sang Kepala Gereja sekaligus Kepala Gerakan ini menguatkan kita semua dalam melewati pergumulan pandemi covid-19.

Tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, tinggilah pengabdian kita! Ut Omnes Unum Sint. Shalom!










Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.