gmki salatiga

gmki cabang salatiga

Momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya gedung-gedung Gereja dipenuhi oleh jemaat yang memiliki niat yang sama untuk beribadah. Namun karena pandemi Covid-19 masih merajalela maka niat tersebut harus dilepaskan. Sesuai himbauan pemerintah dalam rangka memutus penyebaran Covid-19, kegiatan yang membuat kerumunan dilarang untuk dilaksanakan, termasuk kegiatan keagamaan.

Keadaan yang berbeda itu dirasakan juga oleh Oma/Opa di Panti Wredha dan teman-teman di Panti Asuhan yang berada di bawah naungan Yayasan Sosial Kristen Salib Putih, Salatiga. Sama halnya seperti umat Kristen lainnya, mereka harus merayakan peringatan hari Kenaikan Yesus Kristus tahun ini tidak di gedung Gereja, melainkan di “rumah” mereka.

Kamis, 21 Mei 2020, bersama dengan para majelis GKJ Salib Putih, Salatiga, sebagai salah satu medan layan GMKI Cabang Salatiga, saya bersama tiga teman lainnya, Roberto Buladja, Frainto Kalumata, dan Gian Takain dari GMKI Cabang Salatiga turut merayakan Kenaikan Yesus Kristus di Panti Wredha Salib Putih. Keikutsertaan kami berawal dari ajakan Bu Atiek, ketua majelis GKJ Salib Putih, pada pertemuan kami sebelumnya, Sabtu, 16 Mei 2020, dalam rangka memperat relasi dengan medan layan. Selain kami, ibadah diikuti oleh sebagian penghuni Panti Wredha dan perwakilan penghuni Panti Asuhan serta para pengasuh dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Peribadahan tersebut difasilitasi oleh majelis GKJ Salib Putih dengan menggunakan rekaman video.

Setelah ibadah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan tanda kasih kepada Panti Wredha dan Panti Asuhan Salib Putih oleh majelis GKJ Salib Putih. Tanda kasih diberikan melalui 27 amplop untuk Panti Wredha dan 31 amplop untuk Panti Asuhan yang berisi uang tunai. Selain itu, tanda kasih berupa sembako sebanyak 21 paket juga diberikan kepada orang-orang yang telah mengabdikan dirinya bagi Panti Wredha dan Panti Asuhan Salib Putih. Tanda kasih tersebut diserahkan secara simbolis kepada masing-masing pengasuh. Rasa syukur dan bahagia diungkapkan oleh Pak Erwin selaku pengasuh Panti Asuhan Salib Putih atas pemberian jemaat GKJ Salib Putih. “Kami tidak melihat amplopnya, tapi kami melihat isinya, ada kasih di dalamnya.” ungkapnya ketika menyampaikan sambutan. Ungkapan Pak Erwin menandakan bahwa mereka sungguh merasakan kasih yang mendalam, bukan sekadar kebahagiaan karena mendapatkan berkat namun mereka merasakan kepeduliaan jemaat GKJ Salib Putih kepada mereka yang sungguh nyata.

Masih dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ibu Atiek memberikan kesempatan kepada GMKI Cabang Salatiga untuk menyampaikan sambutan. Sungguh hal yang tidak terduga dan kesempatan berharga. Sambutan GMKI Cabang Salatiga disampaikan oleh Frainto Kalumata selaku Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan GMKI Cabang Salatiga. Dalam sambutannya, laki-laki yang berasal dari tanah Halmahera tersebut menyampaikan syukur atas kesempatan yang diberikan, memperkenalkan GMKI secara singkat dan menyampaikan harapan agar memiliki kesempatan ke depannya untuk dapat berkumpul kembali bersama keluarga di Panti Wredha dan Panti Asuhan Salib Putih. Setelah sambutan dari GMKI Cabang Salatiga, kegiatan ditutup dengan doa oleh Ibu Atiek.

Di akhir kegiatan, Ibu Atiek beserta majelis GKJ Salib Putih lainnya langsung berpamitan karena hendak pergi melayat. Sementara saya bersama tiga teman lainnya masih berbincang-bincang dengan pengasuh dan para penghuni panti. Tak lama, kami menghentikan perbincangan dan turut membantu teman-teman Panti Asuhan mengangkut paket-paket sembako ke Panti Asuhan. Kami berjalan melalui jalur belakang, menapaki jalan tanah, melewati perkebunan dan peternakan, hingga tiba di Panti Asuhan yang berjarak sekitar 100 meter dari Panti Wredha. Kedatangan kami disambut dengan tatap penasaran para penghuni Panti Asuhan yang sedang duduk-duduk di sekitar taman.

Panti Asuhan Salib Putih adalah rumah bagi 30 orang penghuni panti. Mereka terdiri dari beragam usia, mulai dari kelas 4 Sekolah Dasar (SD) hingga yang sudah lulus dari bangku kuliah. Mereka tinggal di kamar-kamar sekitar panti bersama dengan penghuni lainnya. Kamar mandi yang ada diperuntukkan untuk bersama. Dalam lingkungan Panti Asuhan tersebut juga terdapat dapur yang digunakan tenaga dapur untuk mengelola makanan sehari-hari para penghuni panti. Pak Erwin, pengasuh Panti Asuhan Salib Putih, tinggal di rumah yang berada dalam komplek Panti Asuhan bersama keluarganya.

Kesempatan berharga lagi-lagi kami rasakan di Panti Asuhan tersebut. Sebuah kehormatan bagi kami ketika Pak Erwin mengumpulkan para penghuni panti di hadapan kami. Kami berempat diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri kepada teman-teman di Panti Asuhan. Tidak hanya kepada kami, Pak Erwin juga memberikan kesempatan kepada teman-teman di Panti Asuhan untuk memperkenalkan diri. Rasa syukur yang mendalam ketika mereka satu-persatu memperkenalkan diri kepada kami. Ada ikatan baru yang saya rasakan ketika berkenalan dengan mereka. Di akhir perjumpaan kami hari itu, mewakili teman-teman GMKI Cabang Salatiga, saya ucapkan terimakasih dan bersyukur atas kesempatan tersebut, berharap kita semua tetap dalam lindunganNya serta bisa berjumpa di kemudian hari.

Kami beranjak dari Panti Asuhan kembali ke Panti Wredha, tempat kami memarkirkan kendaraan kami. Sesampainya di sana, ternyata kami tidak bisa langsung pulang. Salah seorang penghuni Panti Wredha, Opa Sentot, memanggil kami dan mengajak kami berbincang-bincang. Opa Sentot adalah salah seorang penghuni Panti Wredha yang tinggal di panti sejak satu bulan yang lalu. Usianya 72 tahun. Ia tidak menikah dan hidup sebatang kara hingga akhirnya tinggal di sana. Berdasarkan penuturan kisahnya, ia memilih tidak menikah karena ia ditinggalkan kekasihnya yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Sejak itu ia tidak berniat lagi untuk menikah. Dengan Opa Sentot kami bercerita banyak terkait perjuangan pergerakan mahasiswa. Ia juga berpesan kepada kami agar terus menghidupkan GMKI dan berjuang bagi bangsa dan negara. Ternyata, masa lalu Opa Sentot juga dipernuhi dengan kehidupan seorang aktivis. Ia pandai berdialeg berbagai daerah di Indonesia. Karakternya yang humoris membuat perbincangan kami penuh dengan tawa. Ia mengaku bersyukur bisa berjumpa dengan kami dan berharap kami bisa berkunjung kembali.

Selain Opa Sentot, kami juga berbincang dengan Oma Maria. Sama halnya dengan Opa Sentot, Oma Maria juga tidak menikah. Tidak begitu jelas alasan ia memilih tidak menikah, ia hanya menyampaikan “Daripada menikah tapi berantem mulu suami-istri”. Usianya kini 75 tahun. Penglihatan Oma Maria sudah tidak berfungsi dengan baik. Menurut pengakuannya, fungsi matanya tinggal 10% saja. Oleh karena itu, untuk mengenali seseorang ia mengandalkan suara orang tersebut. Oma Maria nampaknya adalah seorang pembelajar sejati. Ia menyenangi tanya-jawab terutama isu teologi. “Nanti kalo pandemi sudah selesai, datang lagi, Oma mau tanya-tanya tentang firman Tuhan.” ungkapnya kepada kami. Hal menarik yang Oma Maria ceritakan ialah pengalamannya selisih-paham dengan Opa Sentot yang berujung mendaratnya kertas tata ibadah di kepala Oma Maria yang dilayangkan Opa Sentot. Namun setelah itu mereka berteman dan bercanda-gurau seperti biasa. Oma berpesan kepada kami, marah ataupun perkelahian itu tidak boleh sampai matahari terbenam. Artinya, seseorang tidak boleh berlama-lama menyimpan amarahnya.

Perbincangan bersama Opa Sentot dan Oma Maria menjadi penghujung kisah kami di Panti Wredha hari itu. Untuk mengingat kebersamaan kami saat itu, kami berfoto bersama dengan Oma dan Opa sebelum akhirnya meninggalkan Panti Wredha.<br><br>
Perjumpaan-perjumpaan yang saya alami hari itu kembali mengingatkan saya untuk senantiasa mengucap syukur atas kehidupan yang diberikan. Ucapan syukur tersebut sekaligus menyatakan bahwa adanya harapan di masa yang akan datang. Bertepatan dengan peringatan hari Kenaikan Yesus Kristus yang membawa harapan baru bagi manusia ini, saya juga melihat harapan-harapan di wajah Oma dan Opa di Panti Wredha dan teman-teman di Panti Asuhan akan hari esok yang lebih baik. Semoga harapan di hari KenaikanNya ini dapat kita rasakan bersama di hari yang akan datang.

OLEH   : BUNGA SIPAHUTAR

DOKUMENTASI


Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.