gmki salatiga

gmki cabang salatiga

Pandemi Covid bukan Solusi untuk Merebahkan Diri

Menurut situs WHO dalam CNBC Indonesia, virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Pada Desember 2019 lalu telah ditemukan virus corona berjenis covid-19 di Wuhan, China yang menjadi asal muasal wabah.

Wabah ini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Dilansir dari detik.com, per 23 Mei 2020 tercatat ada 21.745 kasus positif virus corona. Angka di tanah air ini lebih tinggi dibandingkan tanggal sebelumnya, yaitu tercatat ada 20.796 positif virus corona, terdapat selisih lonjakan 949 kasus dalam satu hari.

Meningkatnya kasus virus corona pada setiap harinya membuat pemerintah tidak hanya tinggal diam. Banyak kebijakan baru yang pemerintah keluarkan demi memutus rantai penyebaran virus, mulai dari penyeruan physical distancing hingga pemberlakuan PSBB (Pemberlakuan Sosial Berskala Besar).

Tagar #dirumahaja kini semakin melejit semenjak pemberlakuan physical distancing. Tagar ini memenuhi seluruh ruang media sosial mulai dari WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga Twitter. Banyak dari warganet yang menggunakan tagar ini sebagai langkah membantu pemerintah menyerukan physical distancing. Mereka harus mulai membiasakan diri untuk melakukan segala aktifitas dari rumah masing-masing, mulai dari bekerja, belajar bahkan belanja pun bisa di mulai dari rumah. Satu dua hari mungkin akan merasa menyenangkan berada di rumah, namun jika terus menerus tentunya akan terasa membosankan. Maka mulai muncullah kaum-kaum rebahan. Menurut KBBI, rebahan adalah sebutan untuk perilaku orang yang suka bermalas-malasan di tempat tidur. Hal ini bisa terjadi karena mereka sudah nyaman dengan gawai masing-masing, tangannya sudah lengket dengan gawai hingga tidak bisa dilepaskan layaknya amplop dengan perangko.

Alangkah lebih baiknya jika kegiatan #dirumahaja tidak hanya di isi dengan rebahan dan bermain gawai. Akan tetapi diwarnai dengan kegiatan lain, seperti halnya:

  1. Membaca Buku

Buku adalah jendela dunia, ungkapan ini di rasa pas, karena dengan membaca maka kita bisa mengerti dan mengetahui pemikiran yang penulis tuliskan dalam bukunya. Membaca ini bisa menjadi salah satu alternatif dalam kegiatan #dirumahaja, pasalnya dengan membaca maka kita akan menambah pengetahuan kita.

  1. Mengadakan Diskusi Online

Alternatif kegiatan yang kedua ini bisa di lakukan dengan memanfaatkan sosial media yang ada, misalnya dengan menggunakan WA grup, Line Grup, aplikasi zoom ataupun fitur media sosial lainnya. Kita bisa melakukannya dengan mengundang pemateri yang kompeten mengenai masalah yang ingin kita angkat, ataupun kita mengikuti diskusi-diskusi online yang orang lain buat.

  1. Memasak

Memasak merupakan kegiatan rutin yang pasti dilakukan di rumah. Belajar memasak menjadi alaternatif kegiatan ini, kegiatan #dirumahaja ternyata bisa memunculkan bakat memasak terpendam kita. Kalaupun memang belum bisa sama sekali, kita bisa memanfaatkan platform youtube, di sana sudah menyediakan banyak konten-konten memasak, tinggal kita pilih sesuai keinginan.

  1. Membuat Konten Kreatif

Kita bisa membuat konten kreatif untuk mengisi kegiatan #dirumahaja. Kontennya pun beragam, bisa berbagi ilmu, berbagi pengalaman, berbagi tips, ataupun hal” kreatif lainnya.

  1. Mencari Angin Segar

Berada #dirumahaja tentu membuat kita sedikit bosan, sesekali mencari angin segar tentu bisa membuat pikiran kita sedikit segar. Hal ini bisa dilakukan dengan joging keliling komplek ataupun berbelanja keperluan rumah. Tentunya tidak untuk setiap hari dilakukan, itupun harus kita lakukan sesuai dengan protokol pemerintah, yaitu tetap menggunakan masker ketika berada di luar rumah, tidak menyentuh langsung barang publik menggunakan tangan, dan ketika kita sampai rumah harus langsung mengganti pakaian yang dikenakan.

Selain penyeruan physical distancing, pemerintah juga memberi himbauan pelarangan mudik bagi masyarakat perantauan. Hal ini tentu sulit dilakukan, mengingat mudik sudah menjadi rutinitas kegiatan rutinitas menjelang lebaran. Bagi masyarakat yang sadar akan pentingnya pemutusan mata rantai virus corona, pastinya akan mematuhi kebijakan pemerintah. Namun, kebijakan ini sudah tidak mempan lagi bagi mereka yang sudah memendam kerinduan kepada keluarga besar di kampung halaman. Sehingga berbagai jalan tikus pun mereka lalui demi bertemu dengan keluarga tercinta, mereka kurang menyadari bahwa tindakannya ini bisa membawa malapetaka berupa penyebaran virus kepada keluarga besar mereka sendiri.

Pemerintah juga tidak kehilangan akal untuk mengatasi masyarakat dengan tipe-tipe seperti itu. Mereka melakukan penjagaan yang ketat dengan dibantu polisi di setiap jalan lalu lalang pemudik. Jika mereka menemukan mobil yang berisikan para pemudik, maka mobil tersebut akan diputar balikkan.

Kebijakan-kebijakan pemerintah ini juga menyinggung beberapa aspek, seperti halnya pendidikan. Akibat adanya physical distancing, seluruh tingkatan pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi diberlakukan sekolah daring. Bagi mereka yang sudah mempunyai gawai, sistem pembelajaran daring akan mudah dilakukan. Namun tidak mudah bagi mereka yang tidak mempunyai gawai, pembelajaran akan terhambat, sehingga ada inisiatif beberapa guru untuk mendatangi rumah muridnya satu persatu demi keberlangsungan pembelajaran sebagaimana mestinya.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.