gmki salatiga

gmki cabang salatiga

Suara dari dan untuk Timur Indonesia, seberapa terwudkah sila kelima Pancasila di negeri ini ?

Lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan Falsafah Negara sejatinya adalah untuk berkontribusi bagi Negara bahwa Negara Indoensia adalah Negara yang memiliki kedaulatan serta memegang prinsip Demokrasi. Pancasila adalah dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diamanatkan melalui Pembukan Undang-Undang 1945 untuk selalu menjadi pengingat dan memastikan bahwa Pancasila mesti diamankan dan dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Disinilah Konsulidasi Negara menduduki kursi untuk menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan Masyarakat dengan berdiri pada setiap nilai dan prinsip yang terterah pada tubuh Pacasila itu sendiri.

Pada hakikatnya setiap narasi yang tertuang dalam butir-butir Pancasila masing-masing memiliki tugas dan fungsinya dalam menjawab dinamika dan gejolak Negara bagi seluruh unsur yang ada dilamnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehadiran Pancasila sangatlah penting bagi Negara Indonesia. sejak didedikasikannya pada tanggal 01 Juni 1945 Hingga hari ini Pancasila mendapat tempat sakral di Negeri ini.

Akan tetapi dibalik megahnya Pancasila berdiri kokoh, nyatanya masih muncul berbagai macam kritik sosial dalam lingkup masyarakat, sebab perwujudan dari setiap butir-butir Pancasila belum semuanya terimplementasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa dan bernegara. Sebut saja satu diantara sila tersebut adalah sila kelima Pancasila. Narasi “Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia” yang tertuang dalam sila kelima ini rasa-rasanya belum sepenuhnya terejawantahkan dalam lingkup bermasyarakat.

Pada Prinsipnya keadilan sosial adalah sebuah konsep besar dengan tujuan yang sangat mulia dalam konteks Indonesia. suatu tatanan tindakan etis bersama sebagai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang sejahtara, adil dan makmur. (Guty,2017 halaman 143 Pancasila Rumah Bersama).

Jika demikian prinsip dari Keadilan sosial mengapa hari ini masih ada yang namanya “ketimpangan” ? bukankah Frasa keadilan sudah digaungkan sejak Negara ini menuju pencapaian cita-cita kemerdekannya? Megapa masih ada rakyat yang menjerit karena dihimpit oleh kemiskinan?  Dimanakah posisi  Negara dalam melakukan otoritasnya yang berdaulat? Ini adalah kumpulan pertanyaan refleksi yang menjadi PR bersama bagaiamana mewujudkan sila keadialan sosial sebagai yang nyata dalam kehidupa sosial masyarakat. 

Jika dibawah dalam konteks hari ini, ketimpangan ini semakin nyata dalam kehidupan sosial masyarakat, setelah angka kemiskinan meningkat di beberapa wilayah di Indonesia. salasatu Daerah yang masih menduduki angka kemiskinan di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dirilis dari Kompas.Com pada 24 Januari 2020, tercatat NTT menduduki prasentase  21,03% sebagai Provinsi termiskin setelah Papua. Ini memperlihatkan bahwa benarlah keadilan sosial yang dituangkan dalam sila kelima belum seutuhnya menyentuh sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Tidak saja mengarah pada kemiskinan tetapi juga dari segi pembangunan yang belum merata yang membuat masyarakat kewalahan dan kesusahan dalam menjalankan aktivitasnya.

Saat sekumpulan pelajar harus menelusuri bukit dan gunung demi mendapatkan signal internet, sekumpulan petani berjuang melanggar sungai yang yang dalam demi menyelamatakan sawah dan ladangya, Nelayan membakar kulitnya dibawah terik matahari berjualan keliling demi menghidupi keluarganya,pejuang pendidikan melampui jalan terjal berbukit demi menyelamatkan anak bangsa, saat segelintir elit merampas hak rakyat untuk membesarkan perutnya sendiri. Itulah segelintir kondisi yang terjadi dilapangan hari ini.

Jika keadialan sosial adalah pemerataan, maka sudah seharusnya pembangunan serupa diperhatikan oleh Pemerintah sebagai penyambung lidah dan penyambung tangan rakyat untuk mensejahtrakan rakyatnya dengan menata sistem pembangunan di Daerah yang adil dan setara. Memeluk setiap harapan rakyatnya, keadilan sosial itu tidak saja diwujudkan dipermukaan kota saja, perwujudan keadilan sosial harus sampai kepada akar rumput. agar semua unsur sadar bahwa kehadiran Pancasila tidak saja menjadi wacana dalam teks semata, tetapi nilainya tertuang dalam kehidupan nyata masyarakat.

Mengutip sebuah Narasi yang ditulisakan oleh Bung Fredy Umbu Bewa Guty Senior di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia-Salatiga  pada buku “Pancasila Rumah Bersama” yang menuliskan bahwa pendiri Negara selalu mengemukan “Negara adalah suatu Organisasi masyarakat yang bertujuan menyelengarakan keadilan” maka pemerintah sebagai representasi Negara perlu hadir untuk mewudkan Negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, bukan keadilan sosial bagi “sebagian kecil” rakyat Indonesia. sudah saatnya Negara melalui Pemerintah melakukan aksinya untuk mewudkan sensabilitas yang menepi kepada harapan rakyat.

Selamat Hari Pancasila.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.