gmki salatiga

gmki cabang salatiga

Adapun beberapa standar yang dapat diukur menjadi mahasiswa skripsi. Mahasiswa telah lulus mata kuliah yang disediakan oleh setiap universitas, waktu perkuliahan memasuki tahun ketiga maupun tahun keempat dikala mengambil  strata 1 (S1). Setelah melewati standar umum yang digunakan setiap kampus tersebut barulah mahasiswa memulai untuk ke jenjang skripsi.

 Ketika menjalankan masa skripsi tentu setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Namum ada hal prinsip yang hampir semua mahasiswa tugas akhir alami yaitu susah maupun senang menghadapi dosen pembimbing. Rasa senang dapat dialami  ketika mendapat apresiasi dari dosen pembimbing  bahwa tulisan yang dibuat  secara sistimatis atau analisis secara teoritis yang cukup mendalam. Adapun titik lemah yang dapat dirasakan oleh mahasiswa skripsi, pada saat revisi yang tak kunjung selesai, pertanyaan dari orang tua yang cukup horor:  “kapan lulus? Masa teman-teman seangkatan sudah lulus kamu belum juga, buat apa  saja selama ini”. “Jangan bilang selama ini tidak serius dalam meyelesaikan tugas akhirmu”. Lingkungan sekitar  pun  turut mempertanyakan hal yang sama. Dorangan untuk melangkah pun sulit didapat. Ketika mau melangkah maju melihat  hasil revisi rasanya otak tidak bisa berpikir untuk dapat menulis.

Merasa tertekan, kebingungan, sakit hati pun melandah. Rasanya tidak ada cara lagi untuk bisa melangkah menyelesaikan skripsi. Berdoa pun rasanya bosan, masa mau mengeluh terus sama Tuhan. Lalu harus seperti apa? Pertanyaan-pertanyaan kecil yang sering timbul dalam benak seseorang. Berdiam salah, bergerak salah lalu harus bagaimana?

Berusahalah untuk menarik diri sejenak dari rutinitas menulis skripisi. Kurangi membangun relasi dengan orang-orang yang tidak mendukung. Dan pahamilah diri sendiri, seperti apa dapat dilakukan untuk mengatasi semua ini. Karena hal demikian tidak bisa dihindari, benar ada di depan mata dan sudah seharusnya untuk dihadapi. Mencari ketenangan diri dengan berbagai cara yang mampu membuat diri senang.  Adapaun hal-hal baru yang bisa dilakukan dengan berkunjung ke taman kampus agar bisa mendapatkan suasana baru atau mengurung diri di kamar agar  bisa menenangkan pikiran. Semua bisa dilakukan yang terpenting mampu menenangkan pikiran.  Ketika pikiran sudah bisa tenang buatlah diri senang dengan mengkomsumsi makanan kesukaan atau nonton film kesukaan sebagai bentuk perhargaan terhadap diri sendiri atau hal-hal lain yang membuat senang. Jika ketenangan dan kesenangan hati telah diperoleh, memulai untuk berpacu dalam menghadapi setiap revisi dan mengerjakan perlahan-lahan.

Salah satu aliran filsafat, yaitu Stoa/Stoikisme mengajarkan bahwa ada hal-hal yang up to us (terserah kita) dan not up to us (tidak terserah kita). Agar bisa hidup senang dengan sesuatu yang kita kerjakan  hal-hal yang bukan terserah kita yang berada di luar kendali kita  sebaiknya tidak perlu  diurus. Misalnya: orang-orang selalu mempertanyakan kapan lulus? Atau mencoba meremehkan diri kita karena terlalu banyak mendapatkan revisi dari pembimbing dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya setiap orang bertanggung jawab atas dirinya, jalani kehidupan menurut apa yang berada dalam kendali kita, sedangkan hal diluar kendali tidak tidak perlu untuk diperhatikan. Hal terpenting adalah benahi sistem diri/sudut pandang kita atas hal-hal di luar diri kita karena dengan begitu kita dapat memberikan respon yang tepat terhadap orang lain. jika cara pandang kita kepada diri kita sudah  terkontrol dan dikendalikan maka kita tidak lagi terpengaruh omongan orang lain. Mahasiswa skripsi bisa belajar dari Stoa dalam hal menyikapi hal-hal yang diluar kendali kita yaitu dengan tidak mempedulikan omongan orang lain. Dengan tetap pada prinsip hidup menjalankan skripsi berdasarkan proses dan kemampuan diri. .

oLEH  : MARLEN BAURONGA

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.